SUDAHKAH ANDA MENGETAHUI BAHAYA RIBA SEBENARNYA ???

APA ITU RIBA ?

RIBA = BUNGA

Secara lateral, RIBA bermakna tambahan (Al-Ziyadah).

Secara Istilah, RIBA yaitu semua tambahan yang disertai dengan adanya pertukaran kompensasi (Imam Ibnu al-Arabiy, Ahkaam Al-Qurán juz 1, hal 321).

“Jika seseorang menghutangkan uang kepada orang lain, janganlah ia menerima hadiah (darinya)”. (HR Bukhari)

“Manfaat yang ditarik dari hutang adalah salah satu cabang dari RIBA”. (HR Baihaqi)

“Kamu hidup di dalam sebuah negri dimana RIBA tersebar luas. Karena itu jika salah seorang berhutang kepadamu dan ia memberikan sekeranjang rumput atau gandum atau jerami, janganlah kamu terima karena itu adalah RIBA”. (HR Bukhari)

Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian memberi hutang (qardh), lalu ia diberi hadiah (oleh pengutang) atau si pengutang membawanya di atas kendaraannya maka ia jangan menaikinya dan jangan menerima hadiah itu, kecuali yang demikian itu biasa terjadi diantara keduanya sebelum utang-piutang itu”. (HR Ibn Majah)

Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian memberi hutang (qardh), dan si pengutang menawarkan kepadamu makanan, maka janganlah kamu menerimanya. Dan jika penghutang menawarkan tunggangan, janganlah ia menerima kecuali yang demikian itu sudah biasa terjadi di antara keduanya sebelum utang-piutang itu”. (HR Baihaqi)

HUKUM RIBA :

Ibnu Qudamah mengatakan, “Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).”(Al Mughni, 7/492)

Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun.”

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161).

Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imron: 130)

SADARKAH ANDA ?

Apakah mungkin Anda bisa mendapatkan kehidupan yang nyaman dan keluarga bahagia serta suasana hangat apabila masih melakukan praktek ribawi ?

Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan Riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.

1. Di Perangi Allah Dan Rasul-Nya

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi.” {QS 2 : 278 – 279}

2. Seperti Menzinahi Ibu Kandung

“Riba itu ada 73 pintu (Dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim Dan Al Baihaqi Dalam Syu’abul Iman Syaikh Al Albani Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shahih Dilihat Dari Jalur Lainnya)

3. Dihitung 36 Kali Perbuatan Zina

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba, sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

4. Dilaknat Rasul

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan / membayar riba(nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.” (HR. Muslim)

5. Masuk 7 Dosa Terbesar

“Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “(1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7) menuduh wanita yang menjaga kehormatannya (bahwa ia dituduh berzina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Ini Perbedaan Transaksi Riba dan Syariah Yang Perlu Anda Ketahui

Banyak orang yang belum paham dan bertanya-tanya mengenai transaksi yang mengandung riba dan transaksi yang syariah.

Pertama-tama yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa RIBA dan LABA tidaklah sama.

Dan jangan pernah kita menyamakan riba dengan laba.

Seperti penggalan ayat Al-quran berikut ini:

“… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… ” (QS. Al-Baqarah : 275)

Sebenarnya mengapa sih Islam melarang riba ? Apa tujuannya ? Harusnya kan asal saling sepakat, saling rela, tidak apa-apa dan tidak dosa.

Mari kita bahas bersama-sama contoh LABA dan RIBA agar Anda mudah untuk memahami dengan bahasa yang umum:

1. Saya membeli sebuah rumah sederhana seharga Rp. 100.000.000,- dan saya hendak menjual dengan mengambil untung dengan bunga 1 % per bulan untuk jangka waktu pembayaran 1 tahun.

Transaksi ini tergolong transaksi RIBAWI

2. Saya membeli rumah sederhana seharga Rp. 100.000.000,- dan saya hendak menjual secara kredit selama 1 tahun dengan harga Rp. 112.000.000,-.

Transaksi ini termasuk transaksi SYARIAH

Loh, memang apa bedanya? Kan kalau kita hitung-hitung ketemunya sama-sama untung Rp. 12.000.000,-?

Yuk mari kita bahas mengapa transaksi pertama riba dan transaksi kedua syar’i.

TRANSAKSI PERTAMA RIBA karena:

Tidak ada kepastian harga, karena menggunakan sistem bunga.

Misal dalam contoh di atas, bunga 1% per bulan. Jadi ketika dicicilnya disiplin memang ketemunya untung Rp. 12.000.000,-.

Tapi jika ternyata terjadi keterlambatan pembayaran, misalnya ternyata Anda baru bisa melunasi setelah 15 bulan, maka Anda akan terkena bunga sebesar 15% alias laba saya sebagai penjual bertambah menjadi Rp. 15.000.000,-.

Jadi, semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk melunasi utang, semakin besar yang harus dibayarkan.

Bahkan tidak jarang berbagai lembaga leasing ada menambahkan embel-embel DENDA dan BIAYA ADMINISTRASI.

Maka semakin banyak riba yang dibayarkan.

Bahkan yang lebih parah, ada juga yang menerapkan bunga yang tidak terbayar terakumulasi dan bunga ini akhirnya juga dikenakan bunga lagi. Istilahnya bunga berbunga.

Sistem riba diatas jelas-jelas sitem yang menjamin penjual pasti untung dan pihak yang dirugikan adalah pembeli. Padahal yang namanya bisnis, harus siap untung dan juga siap rugi.

TRANSAKSI KEDUA SYARIAH karena:

Sudah terjadi akad yang jelas, harga yang jelas, pasti, dan tidak berubah lagi.

Misalnya seperti contoh diatas sudah disepakati harga Rp. 112.000.000,- untuk dicicil selama 12 bulan.

Misalkan Anda sebagai pembeli baru mampu melunasi hutangnya pada bulan ke 15, maka harga yang dibayarkan masih tetap Rp. 112.000.000,-. Tidak ada penambahan. Walau ada keterlambatan pelunasan.

Apalagi ada istilah DENDA dan BIAYA ADMINISTRASI. Atau malah bunga berbunga seperti yang dijelaskan di transaksi yang pertama.

Lah kalau begitu si penjual jadi rugi waktu dong? Ya memang bisnis itu harus siap untung dan juga siap rugi.

Tidak boleh ada ceritanya kita pasti untung dan orang lain yang dirugikan.

Nah terjawab sudah mengapa Islam melarang keras yang namanya riba. Ternyata sistem Islam itu melindungi semuanya.

Harus sama hak dan kewajiban antara si penjual dan si pembeli. Sama-sama bisa untung, sama-sama bisa rugi.

Jadi kedudukan penjual dan pembeli setara. Bayangkan dengan sistem ribawi, pem beli. berada pada posisi yang sangat lemah.

Sekarang sudah paham kan hikmahnya Islam melarang riba?

Tobat yuch..!!!

……Niat Amal dan Sampaikan ??